Jumat, 29 Maret 2013

Penalaran Deduktif

Penalaran Deduktif

Adalah penalaran yang bertolak dari sebuah konklusi atau kesimpulan yang didapat dari satu atau lebih pernyataan yang lebih umum. Dalam penalaran deduktif terdapat premis, yaitu proposisi tempat menarik kesimpulan. 

Sedangkan menurut Gorys Keraf dalam bukunya yang berjudul “Argumentasi dan Narasi”, penalaran deduktif adalah suatu proses berpikir (penalaran yang bertolak dari sesuatu proposisi yang sudah ada, menuju kepada suatu proposisi baru yang berbentuk kesimpulan).   
Penarikan kesimpulan secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Penarikan secara langsung ditarik dari satu premis. Proses penalaran deduktif dapat digambarkan sebagai berikut:

                                 
                                                 
Jenis penalaran deduksi yang menarik kesimpulan secara tidak langsung yaitu:
a.     Silogisme kategorial
Silogisme yang terjadi dari tiga proposisi.
Premis umum: Premis Mayor (My)
Premis khusus: Premis Minor (Mn)
Premis simpulan: Premis Kesimpulan (K)
Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term mayor, dan predikat simpulan disebut term minor.
Aturan umum dalam silogisme kategorial sebagai berikut:
1.       Silogisme harus terdiri atas tiga term yaitu : term mayor, term minor, term penengah.
2.       Silogisme terdiri atas tiga proposisi yaitu premis mayor, premis minor, dan kesimpulan.
3.       Dua premis yang negatif tidak dapat menghasilkan simpulan.
4.       Bila salah satu premisnya negatif, simpulan pasti negatif.
5.       Dari premis yang positif, akan dihasilkan simpulan yang positif.
6.       Dari dua premis yang khusus tidak dapat ditarik satu simpulan.
7.       Bila premisnya khusus, simpulan akan bersifat khusus.
8.       Dari premis mayor khusus dan premis minor negatif tidak dapat ditarik satu simpulan.
 Contoh silogisme Kategorial:
·            My : Semua mahasiswa adalah lulusan SLTA
  Mn : Badu adalah mahasiswa
  K : Badu lulusan SLTA
·           My : Tidak ada manusia yang kekal
  Mn : Socrates adalah manusia
  K : Socrates tidak Økekal
·           My : Semua mahasiswa memiliki ijazah SLTA.
  Mn : Amir tidak memiliki ijazah SLTA
  K : Amir bukan mahasiswa
b.    Silogisme Hipotesis
Yaitu  silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis.
Konditional hipotesis yaitu : bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Bila minornya menolak anteseden, simpulannya juga menolak konsekuen.
Contoh:
·        My : Jika tidak ada air, manusia akan kehausan.
Mn : Air tidak ada.
K : Jadi, Manusia akan kehausan.
·        My : Jika tidak ada udara, makhluk hidup akan mati.
Mn : Makhluk hidup itu mati.
K : Makhluk hidup itu tidak mendapat udara.
c.      Silogisme Alternatif
Yaitu silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Simpulannya akan menolak alternatif yang lain.
Contoh :
·        My : Nenek Sumi berada di Bandung atau Bogor.
Mn : Nenek Sumi berada di Bandung.
K : Jadi, Nenek Sumi tidak berada di Bogor.
·        My : Nenek Sumi berada di Bandung atau Bogor.
Mn : Nenek Sumi tidak berada di Bogor.
K : Jadi, Nenek Sumi berada di Bandung.
d.    Entimen
Silogisme yang dapat diperpendek ini disebut entimen. Entimen silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan. Rumus entimen:
C = B karena C = A
Atau
Kesimpulan silogisme karena premis khusus
Contoh:
Prima harus memiliki KTP karena ia penduduk Indonesia yang sudah berusia 17 tahun.
Entimen diatas diturunkan:
PU: Semua penduduk Indonesia yang sudah berusia 17 tahun harus memilik KTP.
PK: Prima penduduk Indonesia yang sudah berusia 17 tahun.
K: Prima harus memiliki KTP.

Penalaran

Penalaran

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
Sedangkan menurut Gorys Keraf dalam bukunya yang berjudul “Argumentasi dan Narasi” Penalaran (proposisi, reasoning, jalan pikiran) adalah suatu proses berpikir yang berusaha menghubung-hubungkan fakta-fakta atau evidensi-evidensi yang diketahui menuju suatu kesimpulan.
 
Proposisi 
Fakta atau data yang akan dinalar itu boleh benar dan boleh tidak benar. Kalimat pernyataan yang dapat dipergunakan sebagai data itu disebut proposisi.
Proposisi berbentuk kalimat berita netral. Kalimat tanya, kalimat perintah, kalimat harapan, dan kalimat inverse (kalimat yang predikatnya mendahului subjek) tidak disebut proposisi.Contoh:
1    1.Ayam adalah burung.
2    2.Indonesia menjadi Negara makmur.
 
Proposisi dapat dibedakan berdasarkan
a.       Jenis
b.      Criteria
Berdasarkan jenis dibedakan dengan lingkaran yang disebut lingkaran Euler. Suatu perangkat yang tercakup dalam subjek sama dengan perangkat yang terdapat dalam predikat.  Semua S adalah semua P Semua sehat adalah semua tidak sakit.
S=P
Jenis proposisi berdasarkan kriteria:
1.      Berdasarkan bentuk : proposisi tunggal dan proposisi majemuk.
2.      Berdasarkan sifatnya : proposisi kategorial dan proposisi kondisional.
3.      Berdasarkan kualitas : proposisi posititif (afirmatif) dan proposisi negative.
4.      Berdasarkan kuantitas : proposisi umum (universal) dan proposisi khusus (partikular).
Macam penalaran:
1.      Penalaran deduktif
2.      Penalaran induktif.
 
Inferensi
Kata inferensi berasal dari kata Latin inferred yang berarti menarik kesimpulan. Atau dengan kata lain, inferensi adalah suatu proses untuk menghasilkan informasi  dari  fakta  yang  diketahui. Inferensi  adalah  konklusi  logis  atau  implikasi berdasarkan informasi yang tersedia. Dalam sistem pakar,  proses inferensi dialakukan dalam suatu modul yang disebut inference  engine. Ketika representasi pengetahaun pada bagian knowledge base  telah lengkap, atau paling tidak telah berada pada level yang cukup  akurat, maka representasi pengetahuan tersebut telah siap digunakan.
Implikasi
Kata implikasi berasal dari bahasa Latin, yang berarti melibat atau merangkum. Artinya akibat, seandainya dikaitkan dengan konteks bahasa hukum, misalnya implikasi hukumnya, berarti akibat hukum yang akan terjadi berdasarkan suatu peristiwa hukum yang terjadi.
Bahasa hukum sebenarnya tidak rumit, prinsipnya bahasa hukum masih mengikuti kaidah EYD, bahasa Indonesia baku. Tetapi, untuk konteks tertentu, ada hal-hal yang tidak bisa mempergunakan bahasa Indonesia baku.
 
Wujud Evidensi
Unsur yang paling penting dalam suatu tulisan argumentatif adalah evidensi. Pada hakikatnya evidensi adalah semua fakta yang ada, semua kesaksian, semua informasi, atau autoritas, dan sebagainya yang dihubung-hubungkan untuk membuktikan suatu kebenaran. Fakta dalam kedudukan sebagai evidensi tidak boleh dicampur-adukkan dengan apa yang dikenal dengan pernyataan dan penegasan. Pernyataan tidak berpengaruh apa-apa pada evidensi, ia hanya sekedar menegaskan apakah suatu fakta itu benar atau tidak. Fakta adalah sesuatu yang sesungguhnya terjadi, atau sesuatu yang ada secara nyata.
Cara Menguji Data
Ditujukan supaya data dan informasi dapat dipergunakan dalam penalaran data dan informasi itu harus merupaka fakta. Dibawah ini merupak cara untuk pengujian data.
a.       Obervasi
Fakta yang diajukan sebagai evidensi mungkin belum memuaskan seseorang pengarang atau penulis. Untuk lebih meyakinkan dirinya sendiri dan sekaligus dapat mengunakan sebaik – baiknya dalam usaha meyakinkan para pembaca, maka kadang – kadang pengarang merasa perlu untuk mengadakan peninjauan atau obervasi singkat untuk mengecek data atau informasi itu.
b.      Kesaksian
Keharusan menguji data dan informasi, tidak harus selalu dilakuan dengan obervasi. Kadang sangat sulit untuk mengaharuskan seorang mengadakan obervasi atas obyek yang akan dibicarakan.
c.       Autoritas
Cara ketiga untuk menguji fakta dalam usaha menyusun evidensi adalah meminta pendapat dari suatu otoritas, yakin dari pendapat seorang ahli, atau mereka yang menyelidiki fakta dengan cermat, memperhatikan semua kesaksian,menilai semua fakta kemudian memberikan pendapat mereka sesuai dengan keahlian mereka dalam bidang itu.
Cara Menguji Fakta
Untuk menetapkan apakah data atau informasi yang kita peroleh itu merupakan fakta, maka harus diadakan penelitian, apakah data” atau informasi itu merupakan kenyataan atau hal yang sunguh – sunguh terjadi.
a.      Konsistensi
Dasar pertama yang dipakai untuk mengatakan fakta mana yang akan dipakai sebagai evidensi adalah konsistenan.
b.       Koharensi
Dasar kedua yang bisa dipakai untuk mungji fakta yang dapat diperguanakan sebagai evidenis adalah masalah koharensi. Semua fakta yang akan digunakan sebagai evidensi harus pula khoren dengan pengalam manusia, atau sesuai dengan pandangan atau sikap yang berlaku.
Cara Menilai Autoritas
Seorang penulis yang baik dan obyektif selalu akan menghindari semua desas – desus, atau kesaksian dari tangan kedua. Penulis yang baik akan membedakan pula apa yang hanya merupakan pendapat saja, atau pendapat yang sunguh – sunguh didasarkan atas penelitian atau data – data eksperimental. Untuk menilai suatu autoritas, penulis dapat memeilih beberapa pokok berikut:
a.       Tidak Mengandung Prasangka
Dasar pertama yang perlu diketahui oleh penulis adalah bahwa pendapat autoritas sama sekali tidak boleh mengandung prasangka, pendapat itu disusun oleh beradasarkan penelitian yang dilakukan oleh ahli itu sendiri, atau berdasarkan pada hasil – hasil eksperimental yang dilakukannya.
b.      Pengalam dan Pendidikan Autoritas
Dasar kedua yang harus diperhitungkan penulis untuk menilai pendapat suatu auoriatas adalah menyangkut pengalaman dan pendidikan autoritas. Pendidikan yang diperoleh menjadi jaminan awal.
c.       Kemashuran dan Presite
Faktor ketiga yang harus diperhatikan oleh penulis untuk menilai autoritas adalah meneliti apakah pernyataan atau pendapat yang akan dikutip sebagai autoritas itu hanya sekedar bersembunyi dibalik kemasruhan dan prestise pribadi dibidang lain.
d.      Khorensi dengan Kemajuan
Hal yang keempat yang perlu diperhatikan penulis argimentasi adalah apakah pendapat yang diberkan autoritas itu sejalan dengan perkembangan dan kemajuan jaman, atau khoren dengan pendapat atau sikap terakhir dalam bidang itu.

Penalaran Induktif

Penalaran induktif adalah penalaran yang bertolak dari penyataan- pernyataan yang khusus dan menghasilkan simpulan yang umum. Penalaran induktif dilakukan terlebih dahulu menyebutkan fakta-fakta khusus baru kemudian dilanjutkan dengan menyebutkan pernyataan umum sebagai kesimpulannya. Secara singkat penalaran induktif dapat digambarkan sebagai berikut:


                           
                           
Adapun bentuk-bentuk penalaran Induktif, yaitu:
1.     Generalisasi
Yaitu proses penalaran yang mengandalkan beberapa pernyataan yang mempunyai sifat tertentu untuk mendapatkan simpulan yang bersifat umum. Dengan kata lain, penalaran secara generalisasi dilakukan dengan mengemukakan hal-hal yang khusus sebagai fakta. Fakta yang khusus ini hendaknya mencukupi, jangan hanya satu melainkan harus lebih dari satu agar akurat dan dapat dipercaya. Bertolak dari fakta itu, kita baru mengambil kesimpulan.
Contoh generalisasi:
·         Jika dipanaskan, besi memuai.
Jika dipanaskan, tembaga memuai.
Jika dipanaskan, emas memuai.
Jika dipanaskan, platina memuai
Jadi, jika dipanaskan, logam memuai.
·        Jika ada udara, manusia akan hidup.
Jika ada udara, hewan akan hidup.
Jika ada udara, tumbuhan akan hidup.
Jadi, jika ada udara mahkluk hidup akan hidup.
2.     Analogi
Cara penarikan penalaran dengan membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama. Berdasarkan persamaan itulah kita menarik sebuah kesimpulan.
Contoh analogi:
·         Nina adalah lulusan Akademi Amanah.
Nina dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Ali adalah lulusan Akademi Amanah.
Oleh Sebab itu, Ali dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
3.     Hipotesis dan Teori
Hipotese (hypo ”di bawah“, tithenai “menempatkan“) adalah semacam teori atau kesimpulan yang diterima sementara waktu untuk menerangkan fakta-fakta tertentu sebagai penentu dalam peneliti fakta-fakta tertentu sebagai penuntun dalam meneliti fakta-fakta lain secara lebih lanjut. Sebaliknya teori sebenarnya merupakan hipotese yang secara relatif lebih kuat sifatnya bila dibandingkan dengan hipotese.
 
4.     Hubungan kausal
Yaitu penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan. Macam hubungan kausal :
·         Sebab- akibat.
Hujan turun di daerah itu mengakibatkan timbulnya banjir.
·         Akibat – Sebab.
Andika tidak lulus dalam ujian kali ini disebabkan dia tidak belajar dengan baik.
·         Akibat – Akibat.
Ibu mendapatkan jalanan di depan rumah becek, sehingga ibu beranggapan jemuran di rumah basah.